BUTIK PAKAIAN PRIA, WANITA, DAN ANAK – ANAK, PLUS AKSESORIES

Jul 24, 2014

PROFIL / BIOGRAFI ITANG YUNASZ


          Yusjirwan Yunasz atau populer dengan nama Itang Yunasz, dilahirkan di Jakarta pada tanggal 31 Desember 1958, dari pasangan asal Minangkabau. Selain sebagai seorang perancang busana muslim terkenal tanah air, Itang Yunasz juga adalah seorang penyanyi dan aktor.

Ayahnya yang bernama Yunas Sultan Pangeran merupakan seorang prajurit TNI namun punya bakat seni antara lain membuat lukisan dari kain perca, sementara ibunya yakni Yuliana sangat gemar menjahit.

Itang Yunasz menikah dengan Yeni Mulyani dan mereka dikaruniai seorang anak laki – laki juga seorang anak perempuan.

          Diusia 10 tahun, Itang Yunasz memang suka mendesain berbagai sketsa. Ia bahkan pernah mencoba ikut Lomba Perancang Mode yang digelar oleh Majalah Femina ditahun 1979, namun tidak mampu meraih peringkat apapun.

Suatu ketika, Itang Yunasz berangkat ke Singapura untuk menyaksikan pagelaran busana milik desainer asal Italia yaitu Renato Balestra. Iapun bertekat menemui sang desainer tersebut untuk berguru. Bak gayung bersambut, Balestra kemudian menyarankan Itang Yunasz untuk belajar menjadi desainer dan sekaligus magang di Roma – Italia.

Itang Yunasz kemudian terbang ke Roma pada tahun 1980 untuk bertemu dan belajar dirumah mode milik Renato Balestra.

Tahun 1981, Itang Yunasz kembali ke tanah air. Ia pun mencoba kemampuannya dengan mengikuti Lomba Perancang Mode. Kali ini rancangannya bergaya internasional dengan memadukan busana khas Srilanka, Thailand, Jepang, dan Sumatera, yang diberi tema “Angin Timur Angin Barat”. Pada perlombaan ini ia berhasil menyabet juara dua sehingga memperoleh hadiah uang tunai sebesar Rp. 2 juta, sementara baju rancangan yang diikutkan dalam perlombaan tersebut ternyata diminati oleh seorang konsumen asal Houston – Texas, senilai Rp. 4 juta.

Dari sinilah Itang Yunasz mulai merintis usahanya bermodalkan uang sejumlah Rp. 6 juta tadi.

Didunia tarik suara Itang Yunasz pernah populer dengan lagu berjudul “Aku Cinta Padamu”. Ia juga pernah dikontrak beberapa tahun oleh Pangeran Brunai untuk menjadi singer di Brunai Darussalam. Sejak namanya makin dikenal oleh pencinta musik tanah air, aktifitas Itang Yunasz didunia desain busana tidak lagi terfokus.

Akhirnya ditahun 1991, Itang Yunasz memutuskan untuk kembali lebih serius menggeluti bisnis merancang busana. Sejak saat itu iapun sering menjuarai ajang perlombaan merancang busana, dan selalu terpilih sebagai Perancang Busana Indonesia Terbaik.

Itang Yunasz lebih memilih merancang busana muslim gaya moderen, sebab menurutnya busana muslim model lama yang dirancang oleh desainer pendahulu terlalu menampilkan lembaran kain yang berlapis – lapis sehingga terkesan menumpuk dan gedombrongan.

Ia memperhatikan wanita berhijab sebagai professional yang bekerja diperkantoran seperti di bank, namun kebanyakan mereka belum mengetahui jenis blazer yang sesuai dengan lingkungan tempat mereka bekerja. Itang Yunasz kemudian memproduksi rancangan busana muslimah dengan memakai label “Tatum” untuk produk pertamanya yang diedarkan kepasaran.

Diteruskan dengan merek “Preview” untuk produksi baju koko. Ide rancangan baju koko ini muncul saat Itang Yunasz memperhatikan penampilan Almarhum Ustad Jeffry Al Bukhori (Uje) yang sering tampil didepan publik.

Selanjutnya, Itang Yunasz memproduksi merek “Marrakech” berupa busana muslim gaul dari bahan kaos bagi kalangan anak muda. Label Marrakech sendiri merupakan ubahan dari kata Maroko yaitu negara wisata yang terletak di Benua Afrika namun sangat berkesan bagi Itang Yunasz saat ia berkunjung disana.

Ketika Itang Yunasz mendapat undangan di Jeddah – Saudi Arabia untuk menampilkan berbagai rancangan busana muslim hasil karyanya, saat itu pulah ia menunaikan ibadah umroh pertamanya. Setelah usianya menginjak 30 tahun, ia memutuskan untuk melakukan Ibadah Haji untuk pertama kalinya.

          Saat ini Itang Yunasz memiliki sekitar 50 orang karyawan yang membantu bisnis busana muslimnya yang terus berkembang.


Baca Selengkapnya...

Jul 19, 2014

PROFIL / BIOGRAFI HARRY DARSONO



          Nama lengkapnya adalah Mercelino Dominicus Savio Harry Daroeharto Darsono, namun populer dengan nama Harry Darsono. Lahir pada tanggal 15 Maret 1952 di Mojokerto – Jawa Timur. Harry sembilan bersaudara dan ayahnya yaitu Haji Darsono, merupakan pengusaha rokok ternama Djie Sam Soe serta Wismilak.

          Harry Darsono merupakan salah seorang perancang busana tanah air yang piawai melukis diatas kanvas maupun kain sutra, juga merancang berbagai desain kostum panggung, karya tenun, dan mampu menghasilkan sulaman dekoratif serta kontemporer.

Sejak awal tahun 1970-an, Harry Darsono dianggap sebagai desainer yang memprakarsai adibusana (Haute Couture atau Art To Wear) di Indonesia. Karyanya telah banyak dipakai oleh tokoh terkenal dunia dan para pesohor lainnya.

Adibusana merupakan produk pesanan khusus pribadi yang berkualitas tinggi dan tidak ada duanya didunia, dikerjakan secara manual / dijahit menggunakan tangan dengan tinggkat ketelitian luar biasa, serta terbuat dari bahan yang sangat mahal. Kemudian pola yang menjadi gambaran untuk sebuah pesanan adibusana tadi, harus segera dimusnahkan saat produk pesanan telah selesai dibuat.

Untuk kelas dunia kita mengenal beberapa perancang adibusana, seperti: Christian Dior, Yves Saint Laurent, Chanel, Jean Paul Goultier, Givenchy, Christian Lacroix, dan Valentino.

Selain sibuk sebagai perancang busana, Harry Darsono juga aktif dalam dunia pendidikan seni dan desain, psikologi kewirausahawan, bahkan konsultan untuk berbagai perusahaan.

Masa kecil Harry Darsono dianggap memiliki suatu kekurangan, akibat sulitnya orang – orang disekeliling dia untuk mampu mengerti dan memahami apa yang diucapkan serta dipikirkannya saat berkomunikasi. Oleh kedua orang tuanya, ia kemudian masuk pada sebuah sekolah luar biasa di Surabaya, agar mampu berkomunikasi dengan baik walaupun menggunakan bahasa isyarat.

Saat berumur 4 tahun, Harry Darsono disekolahkan ke Perancis disebuah sekolah khusus yang memiliki berbagai metode terapy bagi kebutuhan pendidikannya. Disekolah tersebut ia mampu mengembangkan bakatnya, seperti menggambar, melukis, main musik, dan memintal. Sejak saat itu Harry Darsono lebih gemar menggambar.

Setelah lulus dari sekolah khusus tersebut, orang tuanya berencana melanjutkan pendidikan Harry Darsono ke sekolah musik di Amerika, namun atas saran dari seorang psikolog yang mengatakan bahwa Harry lebih tertarik pada pelajaran menggambar. Sementara seni musik dan tari, Harry Darsono menyukainya untuk sekedar hobi saja.

Akhirnya Harry Darsono kuliah di Paris Academy Of Fashion, pada tahun 1971. Selesai merampungkan kuliahnya di Prancis, ia melanjutkan kuliahnya tahun 1972 di London College Of Fashion, Inggris. Masih pada tahun yang sama, Harry Darsono menambah pengetahuannya melalui sekolah The London Film & Television Academy.

Harry juga memiliki gelar Phd dalam bidang Humanistic Philosophy.

Saat pulang ketanah air, Harry Darsono ditawarkan oleh bapaknya untuk ikut bergabung membantu orang tua dan saudara – saudaranya bekerja diperusahaan rokok milik keluarga. Namun Harry menolak dengan alasan tidak punya bakat dan latar belakang pendidikan dalam bisnis rokok.

Untuk meraih angan dan mimpinya menjadi seorang perancang busana, maka Harry Darsono balik lagi ke Paris dan bekerja dibeberapa rumah mode guna memperdalam bakat dan pengalamannya. Beberapa karya Harry pun mulai dikenal tidak hanya oleh publik Prancis namun juga diberbagai Negara Eropa, diantaranya: kostum panggung Julius Caesar untuk berbagai pertunjukan kelas dunia, kostum panggung untuk pertunjukan Madame Butterfly karya Puccini, hingga kostum panggung untuk beberapa karya pertunjukan Shakespeare (seperti: Romeo And Juliet, Halmet And Othello, dan King Lear).

Selama Di Paris, Harry Darsono pernah bekerja menjadi tenaga instruktur disekolah yang dahulu ia tempati menimba ilmu, yaitu Paris Academy Of Fashion selama tahun 1972 sampai 1974. Saat di Indonesia tahun 1978, ia pun pernah ikut menjadi staf Pengajar Etika Dan Estetika Busana Muslim Fatayat NU.

Harry Darsono mendirikan rumah mode miliknya di Jalan Kesehatan, Jakarta Pusat. Dirumah tersebut ia memiliki hampir 50 orang karyawan yang setiap hari membantunya membuat motif dan desain untuk karya – karyanya. Sebagian besar karyawan Harry Darsono tersebut merupakan alumni dari STSRI, IKJ, dan ITB.

Beberapa perusahaan lain juga ikut mengontrak Harry Darsono sebagai desainer dan konsultan mereka, diantaranya: PT. Sarinah Jaya, Batik Keris, Selvira, dan Texmaco.

Harry Darsono juga memiliki kesibukan lain dibeberapa yayasan sosial yang didirikannya, seperti: Harry Darsono Foundation, Msyarakat Anti Narkoba, Pantara, dan Hamien (yayasan sosial yang memberikan berbagai ilmu pengembangan diri bagi pemuda putus sekolah dan kesulitan belajar).

          Sebuah museum pribadi Harry Darsono yang mengoleksi karya – karya sejarah buatan tangannya mulai tahun 1970 hingga saat ini menyimpan, antara lain: adibusana, kostum panggung, sulaman dekoratif dan kontemporer, tenun ikat, art to wear, tapestry, lukisan diatas sutra, juga novelty fabrics bagi interior dan adibusana yang terbuat dari sutra halus. Museum yang terletak dikawasan Cilandak – Jakarta Selatan tersebut oleh pemerintah Kota Jakarta ditetapkan sebagai kawasan wisata.









Baca Selengkapnya...

Jun 23, 2014

PROFIL / BIOGRAFI ADJIE NOTONEGORO (PERANCANG BUSANA INDONESIA)



          Salah satu desainer (perancang busana) kondang Indonesia adalah Adjie Notonegoro. Karya – karyanya sudah sering dipamerkan sampai ke mancanegara, seperti: di National Gallery of Australia, dan di Mode Woche – Muenchen (Jerman).

          Hasil karya Adjie Notonegoro juga telah dipakai oleh banyak orang – orang terkenal dari dalam negeri sampai mancanegara, mulai para artis hingga kepala negara seperti Bill Clinton (mantan Presiden Amerika), Gus Dur (mantan presiden Republik Indonesia), dan Fidel Castro (mantan Presiden Cuba).

Adjie Notonegoro dilahirkan tanggal 18 Juli 1961 di Jakarta, dengan nama ayahnya Djati Prayitno dan ibu Ami. Paman dari desainer dan presenter Ivan Gunawan ini memiliki dua orang putra, masing – masing adalah Mohammad Kevin Septiantonotonegor dan Satrio Bagus Andrew Novantonotonegoro.

Ia belajar sekolah mode di Mueller Und Sohn - Jerman, lalu melanjutkannya di Paris dan Italia. Saat di Indonesia, Adjie Notonegoro membuka sebuah butik yang diberi nama “House Of Adjie”.

          Sayangnya dibalik nama besar dan kesuksesannya, Adjie Notonegoro pernah tersandung beberapa kali pelanggaran hukum hingga dipenjara.



Baca Selengkapnya...

Jun 19, 2014

PROFIL / BIOGRAFI ANNE AVANTIE (PERANCANG KEBAYA MODEREN)


          Sianne Avantie atau dikenal dengan nama Anne Avantie, lahir tanggal 20 Mei 1964 di Semarang. Berasal dari keluarga Tionghoa dengan ayah yang namanya Hari Alexander pemilik bengkel variasi mobil, dan ibu Amie Indriati yang menjalankan usaha salon kecantikan.

          Anne Avantie menikah dengan Yoseph Henry dan mereka dikaruniai tiga orang putra – putri, diantaranya: Intan Avantie, Ernest Christoga Susilo, dan Ian Tadio Christoga Susilo. Ia dianggap sebagai wanita pelopor yang berhasil mengangkat kebaya menjadi konsumsi berkelas dunia, dengan merancangnya menjadi busana wanita moderen.

Banyak rancangan serta kreasi dari buah tangan Anne Avantie dipakai oleh para artis - artis wanita, ibu pejabat, juga istri pejabat di tanah air, bahkan beberapa wanita terkenal dunia seperti Miss Universe, diantaranya: Jennifer Hawkins (Miss Universe 2004 asal Australia), Chyntia Ollavaria (runner up 1 Miss Universe 2005 asal Puerto Rico), Zulyeka Rivera Mendoza (Miss Universe 2006 asal Puerto Rico), , serta Dayana Mendoza (Miss Universe 2008 asal Venezuela).

Anne Avantie bertumbuh dan besar di Kota Solo. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Anne sudah mahir menciptakan berbagai jenis hiasan rambut dan dijual keteman – temannya. Diusia remajanya, ia sering dipercayakan untuk membuat kostum budaya dan seni untuk berbagai pentas hiburan remaja di Kota Solo, seperti kostum bagi kelompok vokal grup dan kostum pentas tari sekolah.

Dalam mempelajari seni merancang busana, Anne Avantie tidak pernah mengikuti pendidikan desainer yang formil. Semua dijalani secara otodidak. Ia hanya mengenyam pendidikan sampai lulus SMA saja.

Kariernya sebagai perancang busana dirintis sejak tahun 1989 sewaktu masih tinggal disebuah rumah kontrakan. Dengan hanya berbekal 2 buah mesin jahit ia menjalankan usaha kecil tersebut dengan nama “Griya Busana Permatasari”, yang lebih fokus membuat dan merancang kostum tari serta gaun malam dengan ciri khas perpaduan manik – manik sebagai aksesorisnya.

Pada tahu 2010, Anne Avantie telah memiliki 2 buah butik di Mall Kelapa Gading, sebuah Rumah Pengantin Grand Indonesia, juga Toko PENDOPO yang khusus menjual produk seni karya usaha kecil menengah dalam negeri.

Anne Avantie tidak ingin menikmati sendiri prestasi yang mengangkatnya menjadi desainer kebaya papan atas dunia, tetapi ia juga ingin berbagai ilmu yang dimiliki ini dengan semua orang tanpa dibatasi oleh latar belakang apapun. Ia mendirikan sebuah workshop untuk pelatihan gratis, yang setiap hari ramai dikujungi oleh orang – orang yang datang dari berbagai penjuru negeri ini, yaitu para tukang jahit, desainer busana, bahkan ibu – ibu rumah tangga.

Tak jarang Anne Avantie diundang sebagai nara sumber diberbagai seminar kewirausahaan.

Beberapa penghargaan yang telah diraih Anne Avantie atas prestasinya mengangkat harkat kaum wanita Indonesia dimata dunia, seperti:

- Menerima Kartini Award dari Ibu Negera Kristiani Susilo Bambang Yudhoyono.
- Wanita Indonesia Bisa dari Menteri Pemberdayaan Perempuan , Ibu Meutia Hatta.

Dari kesibukannya sehari – hari yang sangat padat, Anne Avantie juga masih punya waktu luang untuk aktif dalam berbagai kegiatan soasial kemanusaiaan. Ia mendirikan sebuah tempat pelayanan kesehatan yang berkerja sama dengan Rumah Sakit St. Elisabeth di Semarang pada tahun 2002. Tempat tersebut diberi nama "Wisma Kasih Bunda", yang merawat anak- anak penderita hydropcephalus, astresi ani (pasien tanpa lubang dubur), labiopalataschisis, tumor, bibir sumbing, dan berbagai penyakit yang membutuhkan berbagai penanganan darurat.

Semuanya itu berawal saat ibu kandung Anne Avantie menderita penyakit kanker mulut rahim (serviks) selama 13 tahun. Sewaktu merawat sang ibu tersebut, mata hati dan mata rohani Anne terbuka. Ia sadar bahwa tidak semuanya didunia ini dapat dibeli dengan uang dan popularitas, karena ibunya bisa disembuhkan ketika itu hanya oleh mujisat dari Tuhan.

“Ibu saya diberi kesembuhan oleh Tuhan dari kanker serviks yang dideritanya selama 13 tahun”, kenang Anne dalam Harian Media Indonesia, edisi 18 April 2010.

Ia pun memohon kepada Tuhan agar dirinya dipakai sebagai penolong bagi orang – orang yang menderita. Tahun 2002 doa Anne dijawab Tuhan ketika seorang balita berumur enam bulan penderita hydrocephalus yang namanya Aris Masori datang bersama ibunya di kediaman Anne Avantie di Semarang. Mereka datang karena mengira Anne adalah seorang donatur bagi operasi sang balita malang tersebut.

Anne Avantie tidak menyangka atas kejadian ini. Dengan penuh ketulusan serta rasa kemanusiaannya, ia pun segera merespon dan membantu bayi tersebut untuk dilakukan operasi pada sebuah rumah sakit hingga bayi itu sembuh. Sejak itulah ia sangat merasakan bahwa hidupnya sungguh berarti dimata Tuhan.

Di Wisma Kasih Bunda, Anne Avantie selalu punya waktu 24 jam melayani semua anak – anak penderita, baik sebelum mereka menjalani operasi maupun setelah selesai dioperasi atas penyakit yang diderita. Ia sekaligus menjadi pendonor di penampungan sosial ini.

          Anak – anak diberi perawatan khusus berupa fisioterapi, pemulihan gizi, dan pelatihan mandiri pasca operasi agar kondisi mereka kembali stabil dan diperbolehkan pulang. Semua biaya tersebut gratis termasuk selama pengobatan dan operasi. Diwisma ini kami hanya punya dua kata sebagai pedoman, yaitu “Iya Dan Oke”, ucap Anne Avantie seraya tersenyum. Anak – anak yang mendapat perawat diwisma ini berasal dari berbagai penjuru tanah air.




Baca Selengkapnya...

Jun 17, 2014

41 NAMA PERANCANG BUSANA (DESAINER) INDONESIA



          Merancang busana bukanlah merupakan sesuatu pekerjaan mudah, karena:

- perlu ketelitian, dimana seorang desainer tahu betul bahan – bahan kain yang ingin digunakan, agar nyaman dan serasi dipakai bagi konsumen.

- penuh perhitungan, karena seorang desainer mampu mengukur seberapa banyak ia harus membutuhkan bahan dasar kain untuk membuat selembar pakaian dengan model dan ukuran tertentu, sehingga tidak akan terjadi kelebihan / pemborosan menggunakan bahan kain.

- berjiwa seni, bagi seorang desainer juga harus menguasai keserasian warna kain dan model yang sesuai dengan tuntutan pasar.

- berjiwa bisnis, desainer juga harus paham tentang menejemen produksi, manejemen keuangan, dan menejemen pemasaran, sehingga ia bisa terus menjalankan bisnisnya dalam jangka panjang.

          Berikut ini beberapa nama perancang busana (desainer) Indonesia sukses dibidangnya:

1. Samuel Wattimena
2. Sebastian Gunawan
3. Selphie Bong
4. Sapto Djojokartiko
5. Tri Handoko
6. Yohannes E. Yunarko
7. Tex Saverio
8. Virgie Noegrohati
9. Anne Avantie
10. Adjie Notonegoro
11. Arantxa Adi
12. Barli Asmara
13. Biyan Wanaatmadja
14. Carmanita
15. Dian pelangi
16. Didi Budiardjo
17. Edward Hutabarat
18. Ghea S. Panggabean
19. Harry Darsono
20. Marga Alam
21. Maulina putri
22. Nelwan Anwar
23. Ninik Darmawan
24. Obin
25. Oscar Lawalatta
26. Peter Sie
27. Prayudi
28. Priyo Oktaviano
29. Poppy Darsono
30. Raden Sirait
31. Resnha Sapto
32. Anne Avantie
33. Adjie Notonegoro
34. Arantxa Adi
35. Barli Asmara
36. Biyan Wanaatmadja
37. Carmanita
38. Dian pelangi
39. Didi Budiardjo
40. Edward Hutabarat
41. Ghea S. Panggabean




Sumber:  http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_perancang_busana











Baca Selengkapnya...